Maaf Pak Basuki,, Kalo yang Satu Ini Saya Tidak Sependapat

Sempat lihat film Soekarno garapan sutradara Hanung Bramantyo? Itu lho yang pemutarannya dihentikan lantaran belum terselesaikannya kasus perdata yang diajukan mbak Rachmawati, putri dari Soekarno (asli)? Tau kan? Film ini menceritakan sosok Pak Kusno sebagai ikon bangsa, ikon penggerak rakyat Indonesia yang mau tidak mau harus banyak mengalah kepada Walondo dan lanjut kepada Nippon untuk mendapatkan kemerdekaan Indonesia. Setelah beberapa bagian cerita yang disajikan dengan alur maju, film ini diakhiri dengan dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka!!

Intermezzo..

Terlepas dari kualitas filmnya, pengalaman nonton Soekarno akan sulit saya lupakan. Betapa tidak, para penonton (termasuk saya) bersama-sama membuka film dengan menyanyikan Indonesia Raya, Merdeka Merdeka, Tanahku, Negeriku yang Ku Cintaaa…. Begitu film dimulai, muncul instruksi bagi penonton untuk berdiri dan menyanyikan versi modern dari lagu kebangsaan yang pertama kali diperkenalkan oleh W.R. Soepratman saat Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Batavia. Diminta seperti itu, kontan jiwa nasionalisme saya langsung berapi-api. Walau berada di deretan kursi belakang, namun saya yakin, suara saya lah yang paling lantang. Bukan yang paling lantang seruangan memang, tapi yang paling lantang didengarkan istri saya, yang tentunya duduk di sebelah saya 😛

Oke lanjut..

Nah, dari film Soekarno ini sebenarnya tidak banyak yang bisa saya ingat, selain karena merasa filmnya belum sesuai ekspektasi, saya ini memang kurang jago dalam hal ingat mengingat. Kata salah satu temen saya sih, “dasar IQ 88”. Haha.. Saya terima saja dibilang seperti itu, karena kenyataannya nama mata kuliah saja baru bisa saya hapal menjelang ujian akhir. Jadi atas bukti apa saya bisa menyangkalnya? Sudahlah, anjing menggonggong, kafilah berlalu. 😛

Kembali ke laptop. Dari film yang durasinya kira-kira dua setengah jam tersebut, satu bagian yang lumayan saya ingat adalah ketika Pak Kusno dibuang di Bengkulu. Di Bengkulu lah Pak Kusno bertemu dengan Fatmawati, istri keduanya. Namun bukan pertemuannya dengan Fatmawati yang membuat saya tertarik. Pak Kusno waktu itu dihadapkan pada dilema antara melindungi rakyat Indonesia di Bengkulu atau memenuhi kebutuhan para tetara Nippon yang menginginkan pelampiasan atas nafsu birahinya. Wow? Kok bisa begitu? Awalnya, dikisahkan bahwa tentara Nippon mulai memiliki kecenderungan untuk memperkosa perempuan-perempuan pribumi. Rakyat Bengkulu yang mulai gerah dengan keadaan ini berencana melakukan perlawanan. Sadar potensi jatuhnya banyak korban bila melawan tentara ayam kate, Pak Kusno mencoba bermusyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat Bengkulu untuk mencari jalan aman atas keadaan ini. Jelas saja, para punggawa-punggawa Bengkulu tidak mau menolerir tindak maksiat ini. Bagi mereka melawan adalah jalan yang benar tapi bagi Pak Kusno melawan hanya akan membuat pribumi dikebumikan. Nah di sini lah langkah yang “benar-benar tidak benar” diambil Pak Kusno. Bagaimana tidak, alih-alih menentang, Pak Kusno malah setuju untuk membuka praktik prostitusi sebagai wadah pelampiasan nafsu para tentara Nippon bejat itu. Lhoh? Bagaimana bisa proklamator kita yang beragama itu bertindak demikian? Jawabannya ya itu tadi, Pak Kusno tidak mau ada perlawanan yang hanya membuat tubuh-tubuh pribumi ditembaki. Pak Kusno sadar betul, rakyat pribumi Bengkulu bukan tandingan tentara Nippon.

Intermezzo lagi…

Ini seperti cerita di dunia fiktif si Didit Komeng, teman kuliah saya dulu, di mana dia berimajinasi menjadi Son Goku, bangsa Seiya yang punya jurus andalan Kamehame. Karena kekuatannya yang tiada tanding, dengan pongahnya dia berseru, “Wahai seluruh gadis cantik di dunia ini, segera serahkan diri kalian kepadaku! Barang siapa tidak mengindahkan perintah ini, maka seluruh sanak kadangnya akan saya enyahkan.” Singkat cerita, karena tidak ada yang mampu melawannya, si Son Goku cabul ini akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan. Jan, koplo tenan iki imajinasine,, hwakakakaka.. 😀

Balik maning. Selain alasan pertumpahan darah, menurut Pak Kusno melawan berarti melewatkan kesempatan memiliki negeri berdikari, sebagaimana telah dijanjikan pihak Nippon. Oleh karena pertimbangan-pertimbangan ini lah, si Kusno meminta tokoh-tokoh pribumi untuk menutup mata, membiarkan para Nippon tertawa. Kira-kira seperti itu lah bagian yang sedikit banyak aku ingat dari film itu. Intinya Pak Kusno menyediakan wadah prostitusi bagi para Nippon.

Judulnya Pak Basuki lho mas? Kok jadi Pak Kusno?

Maaf maaf, yang saya sampaikan di atas hanya pembanding kok, pembanding atas pendapat pak Wagub DKI, Basuki Tjahaja Purnama atas wacana lokalisasi di Jakarta. Dari cuplikan wawancara yang saya lihat di sini, Pak Basuki berpendapat bahwa lokalisasi prostitusi dapat menjadi solusi yang jelas atas maraknya bisnis esek-esek ini di Jakarta. Bisnis yang bagi sebagian orang dipercaya dapat mengalahkan konsep MLM.

“Bisnis apa yang bisa ngalahin MLM?” jawabnya “ML Oommm..” 😛 See? Bisa diterima? Lanjut…

Alasan Pak Basuki atas usulan lokalisasi prostitusi yang bisa saya tangkap dari tautan diatas kurang lebih seperti ini:

Lokalisasi Solusi Penanganan Prostitusi yang Jelas

“Sebenarnya ga ada orang manapun yang setuju adanya prostitusi. Tapi daripada kita diam-diam tau ada prostitusi tapi pura-pura tidak tau. Penyebaran HIV lima kali lebih banyak ibu rumah tangga daripada si PSK. Kasian kan orang baik-baik ga pernah selingkuh ga pernah apa2 kena HIV. Ya itu yang saya maksud gitu lho. Nah lebih baik kalo lokalisasi kita bisa mengawasi kita bisa mengkhutbahi mereka lebih jelas gitu lho, tapi diluar itu kita betul2 tangkap”.

Tidak ada manusia yang tidak berdosa di dunia ini

“Ya kita jadi orang harus bijak gitu lho, ini yang saya maksud gitu. Ya kan, kalo anda ga mau seperti itu, kalo gitu gimana, ga boleh pake, kalo dites HIV tembak aja kalo gitu. Kumpulin tentara kalo orang dites HIV positif bunuh aja daripada nyebarin penyakit kan. Kita ga bisa. Kita bukan Tuhan. Hanya satu pembuat hukum di dunia ini, Tuhan. Dan hanya ada satu hakim di dunia ini, Tuhan. Maka ketika Nabi Isa diminta merajam pelacur yang tertangkap melakukan berzina, dihukum mati, nabi isa bilang begini, yang tidak pernah berdosa yang merajam duluan. Dan tidak ada seorang nabi manapun yang berani merajam karena ga ada manusia yang tidak berdosa di dunia”.

Belajar dari lagu “Kupu Kupu Malam”

“Lagu Titik Puspa itu baik banget Kupu Kupu Malam. Aku suka tu. Menangis dalam tawa, tawa dalam tangis, ada yang benci dirinya, ada yang butuh dirinya, ada yang berlutut mencintanya. Itu itu, lagu itu jelas. Itu pengalaman pribadi, dia ketemu orang yang PSK, akhirnya setelah didoakan oleh Titik Puspa, saya ketemu Titik Puspa cerita, orang itu bertobat *****(ga jelas)***** suami yang baik. Ga ada orang lahir didunia mau jadi pelacur. Ga ada yang mau jadi PSK. Nah sekarang bagaimana menemukan mereka yang telah hilang ini ditobatkan supaya balik. Nah sekarang ga bisa dikontrol itu semua. Ya kita boleh fanatik, saya juga fanatik, saya fanatik lho, saya menganut prinsip tidak ada seks sebelum nikah lho, saya fanatik. Tapi anda fanatik bukan berarti harus menghakimi orang membunuh orang yang karena salah dia dosa”.

Nah itu lah alasan Pak Basuki. Bagaimana logis? Bisa diterima?

Melihat dua kasus prostitusi jaman Pak Kusno dan Pak Basuki di atas, kita pastinya memiliki pandangan dan pendapat masing-masing, pro atau kontra. Dan saya termasuk yang kontra dengan Pak Kusno sekaligus kontra dengan pendapat Pak Basuki. Kenapa? Sebentar… saya mau menyampaikan yang ini dulu..

Di sini saya memang sengaja mencuplik peristiwa di masa Pak Kusno agar kita tidak buru-buru menghakimi Pak Basuki. Pak Kusno yang kapasitasnya sebagai pemimpin bangsa tak perlu diragukan saja pernah mengambil keputusan kontroversial, apalagi Pak Basuki yang menjabat Wagub DKI baru seumur jagung. Pertimbangannya banyak dan banyak yang perlu ditimbang 😛 . Jadi sangat mungkin pemimpin-pemimpin berbuat kesalahan. Bila memang akhirnya kita merasa berbeda pendapat dengan pemimpin, ya silakan disampaikan. Tapi ingat kawan, pahami dulu masalahnya. Jangan kita tersesat dengan pemberitaan-pemberitaan yang mengundang kontroversi dan cenderung provokatif. Ini era informasi, bung. Pilah dan pilih dengan bijak menjadi keharusan kita, jika ingin mengetahui kebenaran. OK?

Memang, sebagai warga negara yang super dan budiman, tentunya kita berharap para pemimpin dapat mengambil jalan lurus yang sesuai dengan nilai-nilai moral bangsa Indonesia. Tapi sebagai rakyat, hendaknya kita juga ikut berkontribusi lah. Menciptakan negeri yang adil, makmur, damai, sentausa. Lalu bagaimana kontribusi kita? Bicara mengenai kontribusi, ada satu tulisan dari teman sekampus saya, si Zano, tentang faktor keberhasilan negara dalam Islam (maaf bukan berarti saya menganggap Indonesia hanya Islam). Nah ini saya tampilkan tulisannya:

faktor keberhasilan negara dalam Islam
faktor pendukung, atau bisa dikatakan penyebab sebuah negeri/negara menjadi makmur, terdapat beberapa faktor.
sebuah negeri/negara bisa menjadi makmur dengan..

  1. bi ‘ilmil ‘ulama, dengan ilmunya para ahli ilmu (syar’i). yang merupakan pedoman tentang apa2 yang diperintahkan dan dilarang oleh Allaah, membantu manusia menjalankan perintah Allaah dan menjauhi larangan Allaah.
  2. bi ‘adlil ‘ umara, dengan keadilannya penguasa, penguasa yang adil, akan dirasakab oleh rakyatnya apakah dengan cara memimpin atau suasana ketika penguasa itu berkuasa membawakan hawa yang nyaman bagi rakyatnya.
  3. bi sakhwatil agniya, dengan harta orang kaya. para pemilik harta yang sadar bahwa dalam hartanha mereka trdapat hak orang2 fakir, miskin dan dia dengan Ikhlas menginfakkan hartanya.
  4. bi da’watil fukara’, dan yang terakhir, dengan doanya orang2 fakir, ini satu2nya partisipasi dari orang2 miskin/fakir untuk tegaknya sebuah negara, dengan mendoakan kebaikan.

wahai, orang2 fakir, apakah kalian sudah mendoakan untuk kebaikan kepada 3 orang diatas? jika belum, bagaimana orang kaya mau mengeluarkan hartanya, penguasa kalian menjadi adil, dan ulama kalian menjadj bersih, jika engkau(fakir) tidak mendoakan kebaikan kepada mereka, bukankah doa itu gratis?

*)Saya kurang tau juga sumbernya dia kutip dari mana. Lain waktu semoga saya teringat untuk menanyakannya.

Nah kembali ke kontribusi, selemah-lemahnya kontribusi yang bisa diberikan rakyat terhadap negaranya yaitu, seperti yang dituliskan Si Zano, adalah mendoakan kebaikan. Bagaimana kita selama ini? Saya ngangguk-angguk waktu pertama membacanya. Karena walaupun ngakunya muslim, selama ini saya cenderung mengkritik tanpa mendoakan kebaikan. Lhah, kalo pemimpinnya lalim, semena-mena, korupsi lagi, masa iya kita doakan? Ya harusnya tetep donk. Kan doanya biar itu pemimpin kembali ke jalan yang benar, bukan doa biar sukses korupsinya. Oleh karena daripada hal tersebut 😛 , mari kita doakan kebaikan kepada para pemimpin di negara kita ini.

“Ya Allah, ya Tuhanku yang maha mengabulkan doa, tuntunlah para pemimpin di negeri ini ke jalan yang lurus dan benar. Semoga mereka dapat membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Aamiin”

Okai, doanya sudah. Sekarang saatnya menyampaikan pendapat, kritik, atau saran. Perbedaan pendapat itu pasti terjadi. Dan karena Indonesia menjunjung musyawarah untuk mufakat, kita sebagai rakyat dijamin haknya kok untuk mengutarakan pendapat. Jangan kuatir. Asal jangan merasa paling benar dan memaksakan harus pendapat kita yang dijalankan. Lalu bagaimana menyampaikan pendapat? Saya baru bisa menyampaikan dengan cara ini. Melalui tulisan ini saya mencoba untuk menyampaikan pendapat atas wacana solusi Pak Basuki. Siapa tau tulisan ini mampir di layar laptopnya. 🙂 *kurang kerjaan bener pak Wagub DKI mbaca blog ini.. 😛

Secara logika alasan dua pemimpin itu saya anggap benar, logis, dan mungkin solutif. Tapi secara tuntunan agama, saya tidak bisa membenarkannya. Indonesia adalah negara beragama, hal ini tercermin dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila. Sila pertama Pancasila berbunyi “KeTuhanan Yang Maha Esa”. Kemudian dalam butir pertama sila tersebut dinyatakan “Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab”. Apa yang tertera pada sila pertama Pancasila dan butir pertamanya menunjukkan bahwa secara ideologi, setiap warga negara Indonesia percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memeluk suatu agama. Nah karena Indonesia adalah negara beragama, apakah iya praktik prostitusi bisa dibenarkan dan dilegalkan? Indonesia secara resmi mengakui adanya enam agama: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Saya tidak akan membenturkan syariah dari masing-masing agama. Karena saya memang tidak tau. 😛 . Tapi bukankah setiap dari 6 agama itu tidak membolehkan perzinaan? Saya rasa jawabannya iya. Cmiiw.. Bukankah praktik prostitusi berujung pada perzinaan? Nah ini lah alasannya, kenapa saya tidak bisa setuju adanya wacana legalisasi praktik prostitusi di Jakarta itu. Jakarta itu bagian dari Indonesia lho. Bagian dari negara berdaulat yang sepakat untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologinya. Kalau negara beragama adalah ideologi yang harus dijunjung dan ditegakkan di Indonesia, maka selayaknya lah praktik prostitusi dilarang. Di jaman Pak Kusno, permasalahan lebih runyam karena kita belum menjadi negara merdeka. Walaupun, menurut saya, hal itu tidak bisa menjadi pembenaran. Karena saya tidak berada di posisi beliau saat itu, hwahahahaha 😀 , ya jikalau saya ditanya pendapat bagaimana menyikapi masalah itu di jaman tersebut, saya akan menjawab dengan jawaban idealis, yang benar menurut keyakinan saya. Saya tidak akan mengamini praktik prostitusi itu. Jikalau mereka berusaha memperkosa gadis-gadis di sekitar saya, maka… Saya akan berdoa supaya jadi Jiban, melawan mereka, dan nembaki mereka balik. Jiban Jiban…! Hito wa dare demo. Jiban Jiban…! Hitotsu no taiyou. 😀

Kembali ke jaman Pak Basuki. Lalu bagaimana solusinya? Itu yang sedang kita cari… Hahaha.. 😀 . Menurut saya solusi yang dibangun harusnya tidak bertentangan dengan konsep negara beragama. Bisa tidak ya kalau dijalankan aturan yang jelas dan tegas yang melarang segala bentuk praktik prostitusi di mana pun? Bukankah ada sanksi yang tegas pula atas segala bentuk praktik Mo Limo (5M) yang lain: maling, madat, main, dan minum? Jadi mengapa yang madon tidak ada?

Advertisements
This entry was posted in Tulisanku. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s